Bulog Tempatkan NTB sebagai Tumpuan Penyerapan Beras Nasional

3 min read

Mataram (initogel) — Di hamparan sawah yang mulai menguning di Lombok dan Sumbawa, ada harapan yang tumbuh seiring panen. Perum Bulog menempatkan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai tumpuan utama penyerapan beras nasional—sebuah keputusan strategis untuk menjaga pasokan, menstabilkan harga, dan memastikan hasil kerja petani terserap dengan adil.

Bagi petani, kebijakan ini bukan sekadar target serapan. Ia adalah kepastian: panen tidak dibiarkan jatuh ke pasar yang fluktuatif, dan jerih payah berbulan-bulan mendapatkan penghargaan yang layak.


Mengapa NTB Menjadi Andalan

NTB dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional dengan pola tanam yang relatif konsisten dan produktivitas yang stabil. Infrastruktur penggilingan dan gudang yang kian membaik memungkinkan Bulog menyerap gabah dan beras lebih cepat dan merata—faktor krusial saat panen raya.

Dengan menjadikan NTB tumpuan, Bulog berupaya menyeimbangkan suplai antarwilayah, sehingga daerah konsumen besar tetap terjaga tanpa menekan harga di tingkat petani.


Serapan yang Menjaga Harga

Penyerapan oleh Bulog berfungsi sebagai penyangga harga. Saat pasokan melimpah dan harga berpotensi turun, kehadiran Bulog menahan gejolak. Petani mendapatkan harga yang wajar, sementara konsumen terlindungi dari lonjakan saat pasokan mengetat.

Di pasar, stabilitas ini terasa nyata. “Kalau serapan lancar, harga lebih tenang,” kata seorang pedagang. Kalimat sederhana yang merangkum efek kebijakan pangan yang bekerja.


Keamanan Pangan adalah Keamanan Publik

Beras bukan komoditas biasa. Ia menyangkut keamanan publik—dari ketenangan rumah tangga hingga stabilitas sosial. Dengan menumpukan serapan di NTB, Bulog memperkuat cadangan nasional sebagai bantalan menghadapi cuaca ekstrem dan fluktuasi global.

Distribusi yang rapi memastikan beras bergerak dari sentra produksi ke wilayah defisit tanpa hambatan, menjaga keadilan antarwilayah.


Dimensi Kemanusiaan: Martabat Petani

Di balik angka tonase, ada keluarga petani yang berharap pada satu hal: hasil panen dihargai. Serapan yang pasti mengurangi praktik tengkulak yang merugikan dan memberi ruang bagi petani merencanakan musim tanam berikutnya—dari benih hingga biaya sekolah anak.

Pendekatan ini menempatkan petani sebagai mitra, bukan sekadar pemasok.


Tantangan dan Kerja Lapangan

Bulog tetap menghadapi tantangan: cuaca yang tak menentu, kualitas pascapanen, dan kecepatan distribusi. Karena itu, penguatan pengeringan, standardisasi mutu, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan penggilingan menjadi fokus—agar serapan tidak hanya besar, tetapi tepat mutu.


Menjaga Irama Panen hingga Meja Makan

Dengan NTB sebagai tumpuan, irama pangan nasional dijaga dari hulu ke hilir. Panen terserap, gudang terisi, distribusi berjalan, dan meja makan tetap terlayani.


Penutup

Menempatkan NTB sebagai tumpuan penyerapan beras nasional adalah keputusan yang menyatukan strategi dan empati. Ketika negara hadir di sawah, ketahanan pangan tidak hanya menjadi target—ia menjadi rasa aman yang dirasakan bersama.

You May Also Like

More From Author